Mudah-mudahan dalam waktu dengan ini saya akan mudik lagi. Ya, nengok orangtua, sekalian jalan-jalan lah. Memang sampai saat ini di Jampangkulon mash kemarau panjang, sulit air dan awah pun sudah tidak bisa ditanami lagi.

jpkl-02jpkl-01

Memang dari dulu kalau musim kemarau di Jampangkulon, Sukabumi, selalu panjuang, bahkan waktu saya kecil dulu pernah kemarau sampai 7 bulan. Dengan sendirinya air runtuk MCK sangat sulit.

jpkl-03P1011101

Mudah-mudahan tahun ini kemarau di Jampangkulon tidak terlalu lama, dan musim hujan segera tiba. Amien.

Aku dilahirkan 50 tahun lalu di kampung Cikadu, Desa Padajaya, kecamatan Jampangkulon, Sukabumi. Keluargaku sederhana, walau demikian aku tetap bahagia, hidup di desa yang jauh dari kebisingan kota yang kering dan kejam.

Masa kecilku hidup dalam keserhanaan dan nyaris serba kekurangan. Namun, memang sebagian besar teman-temanku di kampung Cikadu memang relatif hampir sama.

Waktu aku kecil sebagian waktu digunakan untuk sekolah, ngadi di pondok, dan main. Aku inget permainan yang paling mengesankan, adalah main bola, dimana bolanya dibuati dari buah jeruk bali yang dibakar terlebih dahulu.

Pagi hari aku sekilah di SD Curughilir 2. Sepulang sekolah aku pergi mencari kayu bakar, dan sore harinya aku pergi ngaji di kampung Pasir Suuk. Tempat aku mengaji selalu berpindah-pindah, dari Pasir Suuk, pindah ke Cikadu, kemudian Pindah ke Pasir Suuk lagi dan terakhir aku pindah lagi ke Cikadu dan selesai.

Setelah tamat SD, kurang lebih tahun 1975-an aku melanjutkan ke SMP, yang waktu itu hanya ada satu SMP di Jampangkulon. Selama 2 tahun aku sekolah di SMP dengan jalan kaki dari rumah ke sekolah yang jaraknya kurang lebih 5 KM. Kemudian naik ke kelas III aku kost, karena sudah merasa cape. Dan tahun 1979 aku meninggalkan Jampangkulon, ya tujuannya untuk melanjutkan ke SMA di kota. (bersambung)

 

 

Waktu saya kecil, ibu pernah berceritera bahwa di Jampangkulon, tepatnya di pantai pangumbahan banyak penyu. Di pantai ini, kalau malam tiba tidak sedikit penyu-penyu pada bertelur. Telur penyu memang enak, dan banyak diperjualbelikan, bahkan mungkin samai sekarang.

Saat ini tampaknya penyu di Pantai Pangumbahan mulai berkurang, bahkan suatu saat penyu-penyu disini bisa saja punah akibat ulah manusia. Padahal pantai pangumbahan dengan penyunya merupakan aset dan objek wisata bahari yang tidak ada duanya.

Pangumbahan Jenis penyu yang banyak terdapat di pantai Pangumbahan adalah jenis penyu hijau atau Chelonia mydas. Penyu hijau dewasa bisa mencapai panjang 1,5 meter dengan berat sampai 300 kg! Sekali bertelur penyu betina bisa menghasilkan 100-200 butir telur.

Telur penyu di alam liar rentan dimangsa predator. Manusia lalu membentuk pusat konservasi untuk -katanya- melindungi mahkluk yang telah diberi status terancam punah sejak 2004 dan tinggal tersisa 6 spesies itu.

Penyu dewasa biasanya kembali ke pantai tempatnya menetas saat akan bertelur. Namun, penyu juga hanya bersedia bertelur di tempat yang gelap tanpa cahaya dan tanpa suara. Saya membayangkan, bisakah tukik pantai Pangumbahan kembali ke tempat dia menetas saat akan bertelur 50 tahun lagi?

Sejak dulu hingga kini, Pantai Pelabuhan Ratu sesungguhnya tetap menjadi daya tarik yang tiada duanya bagi wisatawan. Keindahan panorama alam perairan pinggiran Laut Selatan itu, berpadu dengan cerita mistik tentang seorang Ratu penguasa Laut Selatan adalah fenomena yang tidak dimiliki pantai-pantai lain di manapun juga.”

Setelah menempuh perjalanan selama lebih-kurang 5 jam dari Jakarta, kami tiba di obyek wisata pantai yang berlokasi di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Pantai Pelabuhan Ratu, demikianlah masyarakat menamai tempat ini. Panorama keindahan langsung menyambut setiap pengunjung sejak awal memasuki areal pantai teluk yang amat termashur di dekade-dekade lalu.

Dalam beberapa tahun terakhir, kepopuleran Pantai Pelabuhan Ratu agak menurun terutama disebabkan terbukanya akses jalan ke obyek wisata pantai di daerah lainnnya, seperti ke Pantai Carita di Provinsi Banten. Kemudahan menjangkau Pantai Carita dan tersediannya fasilitas wisata di sana menjadikan warga Jakarta dan wisatawan lain cenderung memilih Pantai Carita sebagai tujuan berliburnya bersama keluarga.

Jarak tempuh yang cukup panjang dari Jakarta dan kesulitan akses ke lokasi Pantai Pelabuhan Ratu cukup menyulitkan wisatawan untuk mengunjungi Pantai Pelabuhan Ratu yang terletak di selatan Kota Sukabumi. Namun demikian, keunikan dan keistimewaan Pantai Pelabuhan Ratu sesungguhnya tetap menjadi daya tarik yang tiada duanya bagi wisatawan. Keindahan panorama alam perairan pinggiran Laut Selatan itu berpadu dengan cerita mistik tentang seorang ratu penguasa laut di selatan Pulau Jawa itu merupakan fenomena yang tidak dimiliki pantai-pantai lain di manapun juga.

Pantai Pelabuhan Ratu terbentang cukup panjang menghadap lautan Indonesia bagian selatan. Pantai ini terdiri atas pantai landai berpasir, pantai bebatuan, pantai curam, dan pantai dengan karang-karang terjal. Di beberapa bagian pantai kita bisa menemukan persawahan penduduk yang langsung berbatasan dengan garis laut, sebuah pemandangan yang unik dan menarik. Suara deburan ombak memecah di pantai menambah semarak suasana alam sekitar, ditambah rimbunnya hutan cagar alam di beberapa bagian di pinggiran pantai memberi keteduhan dan segarnya suasana pinggiran perairan ini. Selain untuk menikmati pemandangan alam pantai, banyak pengunjung ke sini khusus untuk mencicipi makanan khas lautnya yang bahan-bahannya merupakan hasil tangkapan para nelayan di pantai tersebut. Secara keseluruhan, sajian keindahan pantai mampu menghapus segala kepenatan yang melanda sepanjang perjalanan tadi.

 

Waktu saya masih duduk di SMP tahun 1975-an, Ujung Genteng merupakan objek wisata pavorite, karena memang tidak ada lagi objek wisata yang bisa dikunjungi. Kalau kita mau berwisata ke Ujung Genteng, pasti tidak akan terlewatkan juga pantai-pantai lain seperti Pantai Pangumbahan yang juga tidak kalah indahnya dibandingkan dengan pantai lainnya. Bahkan Pangumbahan sangat terkenal dengan objek wisata lainnya berupa Penyu.
Selain itu Anda juga bisa jalan-jalan ke Cikaso, Cikarang, dan lain-lain. Sebenarnya di daerah selatan Sukabumi ini banyak objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Hanya saja perjalanan ke Sukabumi selatan ini memerlukan waktu lama, karena jalannya yang kurang bagus. Jalan ke daerah selatan  ini seolah dibiarkan merana dan tidak terawat

Geografis

Sebetulnya Ujung Genteng adalah daerah pesisir pantai selatan Jawa Barat, terletak ±200 Km dari kota Jakarta. Ujung Genteng masuk wilayah pemerintahan Kabupaten Sukabumi. Sebagian besar penduduknya adalah Nelayan & Petani, ada juga yang beralih menjadi penyadap Nira dan dijadikan gula kelapa.

SebeNARNYA nama Ujung Genteng berasal dari Ujung Gunting, dimana posisi Ujung Genteng berada di ujung salah satu sudut pulau di Jawa Barat yg berbentuk gunting. Dimana bagian ujung gunting atas berada di Ujung Kulon & bagian ujung gunting bawah berada di Ujung Genteng. Maka dinamakanlah daerah tersebut Ujung gunting = Ujung Genteng.
Perkiraan perjalanan antara 5-6 jam dari Kota Jakarta, memang dirasakan sangat lama karena harus melalui kota kecil seperti Cicurug & Cibadak yang terkenal macet, lalu melalui jalan ke arah palabuhan ratu yg tidak terlalu besar serta jalan menanjak & berbelok-belok sepanjang ±14 Km, namun memiliki pemandangan yang indah di sisi kanan jalan, yaitu pesisir pantai palabuhan ratu yang terlihat jelas dari atas bukit Bagbagan.

Melalui pula perkebunan teh Surangga, baru nanti melewati kota kecil Kiara Dua, Jampang Kulon & terakhir Surade. Kesemuanya itu merupakan jalan kecil yg tidak bisa dilalui dengan kecepatan tinggi, apalagi harus melintasi daerah hutan dengan kondisi jalan menanjak & menurun.

Indahnya pantai

Keunikan pantai Ujung Genteng yaitu kita bisa menikmati matahari terbit juga matahari terbenam, mungkin lebih cocok bagi pecinta Fotografi. Pantainya masih cukup bersih dengan ciri khas pesisir pantai selatan yang terkenal bersih airnya dan ombaknya yang besar.

Keunikan lain yaitu dipesisir pantai sepanjang ujung genteng hingga pantai batu nunggul tidak terdapat ombak karena sudah tertahan oleh beting karang yang berada sekitar 200m sebelum garis pantai. Pada saat pasang air laut memenuhi pantai dengan kedalam air 0,5 ~ 1 meter, sangat cocok untuk berendam, bermain perahu karet, juga aktifitas lain seperti kolam luas dengan air yang berarus tenang. Bila surut, maka kita bisa berjalan ketengah sambil melihat2 biota laut seperti bintang laut, siput2, ikan2 hias yg terperangkap, udang2 kecil & bahkan cacing2 laut.

Didaerah Ujung Genteng sendiri terdapat banyak tempat menarik, seperti melihat langsung penyu hijau (Chelonia Mydas) bertelur pada malam hari, yang menggali lubang untuk telurnya, menutup lubang untuk telurnya, juga anda bisa menyentuh penyu hijau tersebut. Ada juga lokasi dimana anda bisa berselancar yang menurut beberapa orang mancanegara merupakan tempat yang bagus karena masih bersih & ombaknya cukup menantang.

Untuk yang suka memancing di Ujung Genteng merupakan tempat yang sering dikunjungi oleh para pemancing dari daerah lain dan menurut mereka ikannya lebih banyak serta cukup bervariasi, Konon juga masih banyak ikan Marlin. Bagi yang suka dengan ketenangan bisa merasakannya di pantai Ujung Genteng ini, apalagi garis pantai yang panjangnya mencapai ±6 Km dan menghadap arah barat, begitu indah bila dinikmati pada saat matahari terbenam. Juga bagi yang suka berpetualang dengan kendaraan 4WD, Trail Bike, Mountain Bike, Surfing & Boating, didaerah Ujung Genteng ini sangat cocok tempatnya. Masih ada beberapa obyek & kegiatan menarik lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu karena memang banyak sekali & jarang ada di daerah lain.

 

Ini adalah rumah dimana aku dan adik-adiku dibesarkan. Di rumah ini aku tingal sejak lahir sampai kelas III SMP. Tetapi memang rumah tua ini sudah banyak irenivasi, walaupun memang sempat ditinggalkan ibu ku. Karena ibu ku punya dua rumah, jadi rumah ini jarang ditempati, karena memang sudahtidak ada tetangga sama sekali.

Di rumah ini sekarang ada yang menempati, dan aku sangat senang rumah ini ada yang menempati dan tentu saja sawah dan ladang yang ada disekelilingku ada yang merawatnya.

Dulu waktu aku dan adikadiku tinggal di rumah ini, memang sangat menyenangkan. Mau makan dengan ikan tinggal mancing di sawah, mau makan sama daging ayam tinggal motong, mau makan sama daging kambing tinggal motong. Begitulah hidup ku di kampung dulu.

Saat ini ibuku masih tetap sehat, bugar dan tidak lupa tetap sederhana sebagai pensiunan PDK.

Beberapa bulan lalu aku dan isteri serta anak-anaku juga nginap dirumah ini. Anak-anak ku sangat menyenagi timggal di rumah sederhana ini. Namun walaupun rumah sederhana, tetapi sudah banyak memberikan keberkahan bagi keluarga ku.

Terakhir saya pulang kampung sekitar bulan April 2011 lalu. Perjalananku ke Jampang waktu itu ditemani, anak dan isteri ku. Maklum ke Jampang waktu itu aku ada pekerjaan di Kang Yusup. Maklum saya kan orang kuli, jadi kemanapun kalau ada kesempatan untuk mendapatkan sesuatu pasti dijalani.

Di kampung halamanku ini, aku sempat keluyuran, ke kebun, ke sawah dan tidak lupa menengok kebun dibelakang rumah. Ternyata walaupun sudah banyak perubahan, teta[i suasana asri dan nyaman tetap masih ada.

Ibuku tetap setia menemanuku, kemana aku jalan. Beliau selalu bicara tentang kampung halaman dulu sebelum banyak perubahan seperti sekaeang ini. Hutan-hutan yang ada dibelakang rumah ku, kini sudah berubah menjadi kebun dan ladang yang nyaris gundul. Sawah di sekeliling rumah juga sudah banyak berubah. Hanya sawah ibu ku yang masih tetap sama dan tidak berubah seperti dulu.

Diumumkan, kepada seluruh warga Jampangkulon yang merasa Alumni SMP Negeri Jampangkulon dari semua angkatan diharapkan kehadirannya pada:

HARI/TANGGAL : MINGGU, 12 September 2010

TEMPAT                   : SMP Negeri Jampangkulon

ACARA                      : PERTEMUAN SADULUR (REUNI AKBAR DARI SEMUA ANGKARAN).

Demikian pemberitahuan ini, kepada teman2 yang merasa Alumni SMP Negeri Jampangkulon diharapkan kehadirannya pada tanggal tersebut.

Terima kasih dan salam sejahtera bagi semua.

Setahu lalu saya mampir ke Bojongsari, ya kangen kampung halaman lah begitu. Saya di ajak Bakar ikan sama teman-teman. Sambil bercanda, di ruangan kantor kelurahan (desa) saya dan temen-temen makang bareng, bakar ikan yang cukup lezat.

Kemudian, pada kesempatan lain saya mampir nengok keadaan CTLC di Bojongsari, tenyata berkembang pesat. Saya waktu itu minta foto-foto kegiatan petani di daerah pajampangan. Kang Deris kebetulan bisa memberikan foto-foto tersebut. Dan alhamdulillah sampai saat ini foto masih saya simpan. Sebagian tersimpan di portal saya di http://wss-id.org/photos/tutang. Silahkan melihat-lihat foto-foto CTLC yang lain juga gallery saya ini.

Jampang selain potensi pertanian seperti padi, ternyata tanaman palawija seperti jagung, kedela, juga sangat cocok. Hanya saja kurang pengelolaan dan kurang support dari pemerintah setempat. Buktinya petani di Cikiwul beberapa waktu lalu cukup berhasil dalam pertanian, seperti cabe, padi dan sebagainya.

Budaya di pajampangan teh sealeresna mah seueur titinggal karuhun urang sadaya. Namun lantaran henteu dimumule, budaya sareng sajantena teh laleungit. Nah, ayeuna urang sadaya, utamina anu ngora sing rajin ngamumula budaya urang. Budaya jampang asli sareresna mah teu katingali, nanging kasenian asli jampang, sapertos kakawihan, ngadu bedug, ngagondang, tah eta teh kedah di mumule.

Sim kuring kacida nalangsana ninggali budaya urang ada di nagara dengen. Bulan Maret 2007 anu tos kalangkung sim kuring kareresan ka nagara Jepang. Di negara anu masyarakatna saripit teh budaya urang sunda langkung dikenal, padahal di kampungna sorangan, nya eta di urang budaya jeung kasenian sunda teh teu pisan-pisan di pi emut ku urang sadaya.

Tahun baheula, nuju sim kuring sakola di sakola dasar, tahun 1970-an. Lisung teh song dipake nutu pare. Ayeuna mah sugan sa antero Jampang rarasaan moal aya anu ngabogaan lisung. Padahal lisung teh kudu dimumula. Dan pajar teh jaman moden, eleh ku mesin giling. Lisung, salain bisa dipake nutu pare, biasana mah sok dipake acar adak sunda, nyaeta ngagondang. Sok geura palire parabot urang sudah teh, tong dilengitkan.

Kasenian sepertos ngagondang, atawa mulan dina wengi kaping 14, tos teu aya. Padahal kasenian jeung budaya ieu teh kacida masihan pituah ka urang sadaya. Mugi-mugi upami anu aranom tos eling kana kasenian urang jeung budaya urang sunda, ka payuna tiasa di mumule deui.

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.