Waktu saya kecil, ibu pernah berceritera bahwa di Jampangkulon, tepatnya di pantai pangumbahan banyak penyu. Di pantai ini, kalau malam tiba tidak sedikit penyu-penyu pada bertelur. Telur penyu memang enak, dan banyak diperjualbelikan, bahkan mungkin samai sekarang.

Saat ini tampaknya penyu di Pantai Pangumbahan mulai berkurang, bahkan suatu saat penyu-penyu disini bisa saja punah akibat ulah manusia. Padahal pantai pangumbahan dengan penyunya merupakan aset dan objek wisata bahari yang tidak ada duanya.

Pangumbahan Jenis penyu yang banyak terdapat di pantai Pangumbahan adalah jenis penyu hijau atau Chelonia mydas. Penyu hijau dewasa bisa mencapai panjang 1,5 meter dengan berat sampai 300 kg! Sekali bertelur penyu betina bisa menghasilkan 100-200 butir telur.

Telur penyu di alam liar rentan dimangsa predator. Manusia lalu membentuk pusat konservasi untuk -katanya- melindungi mahkluk yang telah diberi status terancam punah sejak 2004 dan tinggal tersisa 6 spesies itu.

Penyu dewasa biasanya kembali ke pantai tempatnya menetas saat akan bertelur. Namun, penyu juga hanya bersedia bertelur di tempat yang gelap tanpa cahaya dan tanpa suara. Saya membayangkan, bisakah tukik pantai Pangumbahan kembali ke tempat dia menetas saat akan bertelur 50 tahun lagi?